Christus resurrexit! Vere resurrexit!
Christ is Risen! Truly He is risen!
Alleluia!

-- (via catholicsoul)

http://mxmt.ch/t/67967207

I just used @musixmatch to sing along to Addicted To You (David Guetta Remix) by Avicii #lyrics

You get depressed because you know that you’re not what you should be.

-- Marilyn Manson (via crucify-sorrow)

BIOGRAFI SANG KAKEK

PINTARAJA MARIANUS SITANGGANG

Saya lahir di Sigillombu, Siriaon, Negeri Buhit, Kecamatan Pangururan, Samosir 12 Desember 1938. Inilah tanggal, bulan dan tahun kelahiran saya. Data kelahiran ini saya tahu secara kebetulan, setelah saya tahu baca tulis, kelas 3 SR (Sekolah Rakyat) tahun 1947. Secara kebetulan saja. Saya tidur-tiduran, menghadap didinding dan terbacalah:tubu 12  Desember 1938, hari Selasa, kira-kira jam 7 malam. Lalu saya tanya Bapak: Pak, tanggal lahir siapa yang tertulis di dinding itu? Bapak jawab: Ari hatutubum (tanggal lahirmu). Bapak, memang tahu baca dan tulis. Dan saya diberi nama : PINTARAJA.

Saya anak ke 2 (kedua) dari 8 (delapan) bersaudara 4 (empat) putra dan 4 (empat) putri. Pendidikan Dasar dimulai di sebuah Sekolah Rakyat (SR=sekarang SD); tahun ajaran 1945/1946 di Siriaon, sampai kelas 3. Kelas 4 pindah ke Harapohan ( 1,5 jam jalan kaki dari rumah) dalam situasi Agresi ke II. Pada tanggal 27 Desember 1949, Penyerahan Kedaulatan, pindah ke Pangururan( 5 km dari kampung =1 jam jalan kaki). Kelas 5 dan kelas 6 berlanjut di Pangururan. Pada tahun 1950, saya masuk Katolik dan dipermandikan oleh Pastor Woestenberg OFMCap dan saya diberi nama permandian MARIANUS. Itulah awal jadinya nama saya bertambah panjang.

Tamat SR thn ajaran 1951/1952. Dan selanjutnya ke SMP Katolik Budi Mulia di Onan Runggu, 50 km dari kampung saya. Tamat dan lulus pada thn ajaran 1954/1955. Selama pendidikan dasar sampai menamatkan SMP berangkat ke sekolah tanpa alas kaki alias kaki ayam.

Setamat dari SMP, saya melanjutkan sekolah ke Medan dan mendaftar dan diterima di Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri (SMEA Negeri). Selama 3 tahun di SMEA Negeri Medan, sembari sekolah saya menjadi pelayan di kedai kopi, hingga lulus SMEA Negeri th.ajaran 1957/1958.

Tidak lama setelah itu, saya didatangi oleh seorang Frater, Fr.Albertinus Smits, yang dalam perkenalan, beliau adalah Direktur SMA RK Bintang Timur di Balige. Beliau mengetahui nama dan alamat saya dari Bapak Uskup Agung, Mgr.A.H.vd Hurk, yang mengenal saya karena saya sering berkunjung ke Keuskupan, tahun-tahun 1955-1958. Kebetulan saya berdomisili tidak jauh dari Keuskupan. Pendek cerita, oleh Fr.Albertinus Smits, saya diminta membantunya sebagai guru di SMA RK Bintang Timur di Balige. Saya ketika itu ragu, karena menyadari, saya baru lulus SMEA yang setingkat dengan SMA lalu harus mengajar di SMA. Beliau bilang, pasti bisa.

Masalahnya, guru-guru yang berasal dari Jawa pada pulang karena alasan keamanan. Pada masa itu, tahun 1958-1959, masa pemberontakan PRRI, jadi masih ada gangguan keamanan di Tapanuli. Akhirnya jadilah saya guru SMA RK Bintang Timur. Pada saat itu, saya juga diminta mengajar di SMEA Negeri di kota yang sama, di Soposurung, Balige. Saya mengajar dan berjalan normal sebagai guru tanpa ada murid yang menganggap enteng walaupun usia relatip tidak jauh berbeda. Saya juga belajar serius agar jangan sampai murid melecehkan pengajaran saya.

Setelah mengajar setahun di SMA RK Bintang Timur, di Balige dan sudah mulai merasa betah dan bangga, saya didatangi oleh Bruder Deodatus Verbeek, bekas guru saya waktu saya di SMP Budi Mulia, di Onan Runggu, Samosir, thn ajaran 1951/1954,meminta saya membantu beliau sebagai guru di SMA RK Budi Mulia, yang baru dibuka di P.Siantar, yang berlokasi di Jl.Sibolga 21, P.Siantar. Beliau membujuk saya dan mengatakan bahwa demi masa depan saya, beliau menyarankan pindah ke P.Siantar agar saya sambil mengajar pagi di SMA Budi Mulia, sore dapat melanjutkan ke B1 Negeri jurusan Ekonomi (kebetulan perkuliahan pada sore hari-malam hari).

SMA Budi Mulia yang dikelola ole Yayasan Budi Mulia, mulai menerima murid baru kelas I dan menampung murid kelas 2, peralihan dari SMA Setia yang berada di lokasi yang sama. Jadilah saya menerima tawaran ini.Saya juga diminta mengajar di SMP Putri di Jl.Marimbun 5, yang dikelola oleh Suster KYM. Disamping itu, saya juga diminta mengajar di Seminari Menengah, P.Siantar. Saya mendaftar dan diterima sebagai mahasiswa di B1 Negeri jurusan Ekonomi di Pematang Siantar. Lama pendidikan di B1 adalah 3 tahun. Sekitar thn 1960 berdirilah FKIP dan tamatan B1 langsung bisa diterima di tingkat yang sama di FKIP pada jurusan yang sama.

Setelah 3 tahun mengajar di SMA RK Budi Mulia di P.Siantar, saya ditugaskan belajar ke FKIP Sanata Dharma di Jogyakarta. Karena saya berasal dari B1 Negeri Jurusan Ekonomi maka saya diterima di FKIP Sanata Dharma dengan penyesuaian tingkat. Saya harus bekerja keras dalam belajar karena mutu kuliah waktu di B1 Negeri Pematang Siantar jauh ketinggalan dari kurikulum FKIP jurusan Ekonomi. Namun demikian, akhirnya saya bisa menyelesaikannya. Bulan Desember 1964.

Semasa pendidikan, terutama pada tahun terakhir pendidikan di FKIP saya berkenalan dan melekat tanpa reserve dengan Maria Bernadette Yo..yang dilanjutkan dengan pernikahan yang dilangsungkan di gereja St Joseph, Matraman, Jakarta pada tgl 9 Augustus 1964. Pertengahan Januari 1965 kami kembali ke P.Siantar dan bertugas aktip kembali di SMA Budi Mulia di P.Siantar.

Kebahagiaan di keluarga menjadi lebih semarak setelah kelahiran anak kami yang pertama pada tanggal 16 Oktober 1968, setelah 4 tahun dari pernikahan kami. Karena keberadaan anak ini sudah lama dinantikan maka jadilah kami beri nama: RACHMAYANTI (Rachmat yang dinanti) SITANGGANG. Tidak sampai sebulan, dipermandikan di gereja dengan nama permandian: REGINA ISABELLA. Jadi nama lengkap di surat permandian dan akte lahir:REGINA ISABELLA RACHMAYANTI SITANGGANG.- Menyusul kemudian kelahiran adiknya pada

Tanggal 11 Augustus 1973 dengan nama: JEANETTE MARINTAN SITANGGANG. Nama permandiannya:JEANETTE.
Mulai tahun 1960, keadan ekonomi betul-betul sangat memprihatinkan, apalagi setelah meletus G30S. pada 3o September 1965. Syukur pada Tuhan, bahwa tahun-tahun yang penuh derita itu dapat dilalui dengan semangat juang yang pantang menyerah. Kondisi ekonomi saat itu, benar-benar hanya memberi peluang hidup ala pas-pasan. Namun dengan sebuah tekad, membentuk kesiapan mental sebagai peralatan perjuangan, kami memulai bahtera ini dengan hidup sederhana, disiplin dan taat asas. Hingga saat ini, saya dan ibu sudah boleh katakan telah mampu menembus batas-batas jaman, yaitu jaman ke jaman yang benar-benar mempengaruhi warna kehidupan sosial ekonomi masyarakat.

Ada sebuah pengalaman penting sebagai sejarah perkawinan saya. Istri tercinta ini, lahir dan berkembang di kota metropolitan Jakarta, dari kalangan keluarga yang tidak begitu merasakan apa itu kemiskinan. Lahir dari kultur dan tradisi yang berbeda dengan saya ,sebagai orang Batak yang di kampung di Samosir. Dan pada masa tahun 1964 itu (saat pernikahan kami), kondisi Jakarta dengan Pematangsiantar dan bahkan Samosir, menunjukkan pola kehidupan yang sangat kontras.

Benar-benar di luar pemahamannya, bahwa kemiskinan semacam itu baru dipahami dan di mengerti, baru ketika kami menikah dan tinggal di Pematangsiantar, dan tentu hal ini tidak terbayangkan sebelumnya bagi seorang Bernadette. Saya sungguh salut benar, dan ini menjadi sebuah arti sesungguhnya dari PERWUJUDAN CINTA, menerima apa adanya, dan sepakat melanjutkan perjuangan hidup, sebagai KEPUTUSAN BERSAMA, tanpa mempermasalahkan perbedaan-perbedaan yang tentu sangat menyolok antara latar belakang saya dengan dia. Dari pengalaman ini, saya mendefenisikan bahwa CINTA itu adalah sebuah bentuk saling pengertian, dan pemahaman, yang diwujudkan berupa pengorbanan tanpa merasakannya sebagai beban.

Walau saya kadang-kadang dapat memahami, mungkin saja saat itu, Bernadette sering kaget, dan mengkritisi beberapa pola hidup yang menurutnya tidak masuk diakal. Misalnya saja, kalau budaya keluarga mereka, bahwa sejak kecil sudah dididik kemandirian dan kerja keras tanpa mengharapkan bantuan orang lain, walaupun keluarga. Namun yang dialami dan dihadapi, adalah sebaliknya yaitu ketergantungan yang melekat terutama di kalangan keluarga yang menuntut keharusan tanggungjawab dan seolah-olah menjadi kewajiban membantu keluarga. Ini salah satu kelemahan yang di lihat sebagai perbedaan pola budaya antara suku Batak dengan suku mereka(Cina) Perbedaan pola ini, sering menjadi friksi yang kadang-kadang menimbulkan ketersinggungan pada hubungan keluarga, lalu terkadang membenturkan makna antara rasa kasihan berbanding prinsip yang berpendidikan. Lalu akhirnya saya juga dapat menyimpulkan bahwa tidak ada keberhasilan tanpa melalui pengorbanan.

Tahun 1969 saya masuk organisasi perburuhan, Sentral Organisasi Buruh Pancasila(SOB Panca Sila) yang disponsori oleh gereja Katolik, sebagai Wakil Ketua, Cabang Kodya P.Siantar/Kab.Simalungun dengan ranting-ranting di perkebunan.
Pada bulan September Oktober, 1970, saya dikirim ke Pilippina, mengikuti Seminar Perburuhan selama 3 minggu di Baguio City, Pilippina. Sebagian dari materi seminar adalah CREDIT UNION( CU ).

Sekembalinya saya dari Pilippina, tahun 1971 mulai saya diskusikan dengan rekan-rekan guru dan menggagasi berdirinya CU dikalangan guru / pegawai SMA Budi Mulia sekitar 20 orang. Sungguh tidak mudah. Dengan sedikit paksaan, potong gaji, jadilah berdiri CU CINTA MULIA, sebuah nama yang diambil dari nama gabungan sekolah BUDI MULIA dan CINTA RAKYAT, yang kebetulan pada saat itu guru-guru dan pegawai-pegawai dari kedua sekolah tersebut menjadi anggota awal, sehingga disepakati bernama: CU CINTA MULIA. CU ini juga sekaligus embryo Gerakan CU di Sumtera Utara. Tahun berikutnya, 1972 tepatnya bulan Juni, suatu team dari CUCO (Credit Union Counceling Office) yang didatangkan oleh PANSOS (Panitia Sosial).

Keuskupan Agung Medan, menyelenggarakan Kursus CU di Medan dan kemudian di P.Siantar (Wisma PEMUDA KATOLIK) Jl.Lingga 1, P.Siantar, pada bulan Juni 1972. Sesudah Kursus CU Perdana ini, oleh Ketua PANSOS KA Medan, Pastor Fidelis Sihotang, dibentuklah suatu TEAM MOBILE CU. Tugasnya, mempromosikan gerakan Credit Union di paroki-paroki se Keuskupan Agung Medan. Alhasil berdirilah beberapa CU, antara lain di Pangururan CU Dame , dibawah pimpinan Bpk Dj.B.Simbolon(alm), di Pakkat CU Pardomuan , oleh Sdr K.R.Situmorang dkk, di Siborongborong, CU Satolop oleh Sdr.Drs.P.Situngkir dkk, di P.Siantar, disamping CU Cinta Mulia, CU Ritama , oleh Sdr.AWT Situmorang dkk, CU Saroha , oleh Sdr.Drs.U.Napitu dkk, di Tebing Tingg CU Hidup Baru oleh Sdr.D.R.Nainggolan dkk, di Aek Kanopan CU Budi Murni , oleh Sdr.B.A Silalahi dkk., di Medan, CU Rukun Damai oleh Drs.T.L.Lumbangaol dkk dan di berbagai daerah lain di Sumatera Utara.

Dengan kehadiran gerakan CU di Sumut, yang pada awalnya disponsori PANSOS Keuskupan Agung Medan, oleh LPPS KWI, Jakarta, saya diundang untuk berpartisipasi pada Exposure Programme of Broederlijk Delen and Vasten Actie, di Petaling Jaya, Malaysia dan di Hongkong, 21 Juli sd. 1 Agustus 1980.

Pada tahap awal dari pertumbuhan CU-CU belum mempunyai kekuatan yang berarti, kecuali hanya semangat para perintis/penggeraknya. Para perintis ini sama sekali tidak mengharapkan imbalan, gaji atau honor, bahkan mereka dengan rela mengeluarkan biaya rapat, uang transport dari kantong sendiri. Yang mereka pikirkan bagaimana jalannya organisasi CU agar mampu memberikan pelayanan, mampu memberikan manfaat dan mampu menumbuh kembangkan partisipasi anggotanya. Terutama bagaimana mewujudkan kepedulian (commitment) bersama untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan bersama. Yang ingin diwujudkan adalah CU memiliki modal sendiri yang kuat, tingkat likwiditas yang tinggi, kesadaran penuh anggota untuk pemenuhan kewajiban. Hal ini bisa terwujud bila dilandasi oleh semangat kerjasama, saling percaya dan kepedulian serta rasa solidaritas terhadap sesama anggota dan Pengurus.

Dengan telah berdirinya beberapa CU, maka dibentuklah suatu badan yang bertugas sebagai Pembina dan Pengembangan CU di wilayah Sumatra Utara, yang dinamai Badan Pengembangan Daerah Credit Union Sumatra Utara(BPD CU SUMUT) sesuai dengan instruksi dari CUCO di Jakarta sebagai lembaga Pembina dan Pengembangan CU tingkat Nasional. Singkat cerita, perkembangan CU mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Secara organisatoris juga terjadi paningkatan, terstruktur secara vertikal, Primer CU, Sekunder CU yang telah terbentuk secara musyawarah sesuai pola dan bentuk organisasi yang telah digariskan CUCO(BK3I) sebagai Induk Gerakan CU yang berkedudukan di Jakarta dengan nama baru BADAN KOORDINASI KOPERASI KREDIT SUMATRA UTARA (BK3D SUMUT).

Dengan perkembangan gerakan CU di Sumut, pada kesempatan Training di Luar Negeri, saya, diikut sertakan untuk mengikuti Training/Seminar di Korea(2 minggu), dilanjutkan ke Taiwan (1 minggu) dan di Hongkong (5 hari) sekitar bulan Mei Juni 1976, disponsori oleh Misereor dari Jerman Barat.

Selanjutnya, berbagai kursus ,seminar, pelatihan diselenggarakan di di berbagai kota di Indonesia, yang didanai oleh Konrad Adenauer Stiftung (KAS) suatu Yayasan di Jerman Barat. Cukup banyak peserta dari gerakan CU Sumut mengambil bagian pada berbagai jenis kursus/pelatihan yang diselenggarakan oleh CUCO(BK3I).

Kembali pada tahun 1981 saya memperoleh beasiswa dari CIDA untuk memperdalam pengetahuan dalam bidang Credit Union, CERTIFICATE PROGRAM pada Coady International Institute of St. FRANCIS XAVIER UNIVERSITY.
Dalam tahun yang sama, dilanjutkan ke Amerika Serikat(USA) untuk studi lapangan di THE INTERNATIONAL CREDIT UNION CENTER di Madison, Wisconsin, USA.

Pada tahun 1982 sekitar bulan Mei, dilaksanakan Musyawarah Nasional Gerakan CU yang dihadiri oleh utusan-utusan dari BK3D-BK3D se Indonesia untuk membahas Laporan dari masing masing BK3D dan menyusun Program Kerja CUCO(BK3I) dan pemilihan/pengangkatan General Manager CUCO(BK3I) sebagai pengganti Drs.Robby W.Tulus, General Manager CUCO(BK3I) yang pindah ke Kanada. Secara aklamasi, saya P.M.Sitanggang, diangkat dan diresmikan sebagai General Manager.

Sebelum peresmian saya sebagai General Manager, saya juga menyampaikan persyaratan bahwa jabatan sebagai GENERAL MANAGER saya terima dengan syarat, bahwa saya tetap berdomisili di Sumut dan bertugas di Jakarta selama 2 minggu tiap bulannya, gaji penuh, transport lokal dan tiket penerbangan Medan – Jakarta Medan setiap 2 minggu,dan penginapan ditanggung oleh CUCO(BK3I), Usul dan syarat dimaksud disetujui terutama dari pihak sponsor Konrat Adenauer Stiftung (KAS).

Bersamaan dengan pengangkatan saya sebagai General Manager BK3I, dengan bantuan sponsor MISEREOR, saya ikut berpartisipasi pada: ASIAN CREDIT UNION LEADER S CONFERENCE on FUTURE DEVELOPMENT OF ASIAN CREDIT UNIONS, 22 27 April 1982, di Bangkok, THAILAND.

Bulan Juni 1982, pada rapat tahunan ASIAN CONFEDERATION OF CREDIT UNION (ACCU) organisasi CU Regional Asia, dimana saya turut hadir terpilih sebagai SEKRETARIS untuk masa jabatan 2 tahun. ACCU Office berkedudukan di Seoul, Korea Selatan. Selama periode 2 tahun itu, setiap 3 bulan sekali rapat rutin di kantor ACCU di Seoul, Korea Selatan.

Di Pematang Siantar, dimana saya sejak lama, dari th.1968 sudah duduk sebagai anggota Pengurus di Organisasi Perburuhan yang kemudian lebih dikenal setelah fusi berbagai organisasi buruh menjadi Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI), pada Pemilihan Pengurus DPC FBSI Kody P.Siantar, bulan Maret 1982, saya terpilih sebagai Ketua, Tugas dan tanggungjawab sebagai Ketua saya laksanakan sampai periode pemilihan berikutnya pada tahun 1985., dimana saya tidak bersedia lagi sebagai calon Pengurus.

Pada tahun yang sama, bulan Oktober Desember 1982, saya mendapat bewasiswa untuk mengikuti suatu kursus: Training Course on Appropriate Management Systems for Agricultural Co-operatives (AMSAC), yang dibiayai oleh German Foundation for International Development (DSE) dan Food and Agriculture Organization of The United Nations (FAO) di Ahmedabad, Gujarat, INDIA.

Sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan CU di Sumut maka dirasa perlu peningkatan pengetahuan dalam memperkenalkan pelayanan baru dan kesadaran baru bagi gerakan CU antara lain, Pelayanan Silang Pinjam ( Interlending ) dan kesadaran hukum . Maka untuk ini, dengan bantuan sponsor the Co-operatve Foundation of Canada, the World Council of Credit Unions, saya mengikuti Seminar Hukum CU: CREDIT UNION LAW SEMINAR, di Seoul, KOREA SELATAN, 29 Mei sd. 9 Juni 1983.

Tidak lama sesudah itu, 10 18 September 1983, saya kembali lagi ke Seoul Korea Selatan untuk ikut serta ,pada: TRAINING SEMINAR ON INTERLENDING, yang disponsori oleh MISEREOR dan WORLD COUNCIL OF CREDIT UNIONS (WOCCU).
Sebagai konsekwensi jabatan saya di ACCU (1982-1987, 1997-2000 Secretary, 2006 -2008, 1st Vice President), saya kerapkali melakukan perjalanan ke negara-negara anggota ACCU. Selama tahun 1984, saya mengunjungi Jepang, Korea Selatan, Sri Lanka, Bangladesh, Nepal dan Taiwan.-

Pada bulan Oktober Nopember 1984, saya membawa rombongan yang terdiri dari 8 orang ( 7 orang dari BK3I dan 1 orang dari Depkop) untuk mengikuti seminar: PROMOTION OF SELF HELP ORGANIZATIONS FOR SAVING AND CREDIT di Institute for Cooperation in Developing Countries of THE PHILIPPS-UNIVERSITY, Marburg, West Germany. Disamping belajar di kelas, tidak dilupakan juga kunjungan ke berbagai Koperasi Kredit(Credit Cooperatve Society) dan excursi ke RAIFFEISEN-ZENTRALBANK, Kurhessen,AG, di Kassel. Juga berkesempatan ke DACHAU, untuk menyaksikan KAMAR GAS pembakaran mayat orang-orang Jahudi, pada zaman pemerintahan NAZI, Hitler. Betapa tidak beradabnya.

Menjelang akhir dari kursus , rombongan berangkat ke BERLIN untuk rekreasi selama 3 hari. Berkesempatan menyaksikan Opera di gedung Opera dan Tembok Berlin.

Seusai program, beberapa orang dari rombongan melanjutkan perjalanan ke LOURDES, PERANCIS dalam rangka ziarah, dengan naik kreta api dari Frankfurt Lourdes yang ditempuh puluhan jam. Begitu turun dari Kereta Api, saya melihat ke arah jalan raya, hotel kecil, dengan nama Hotel BERNADETTE. Dengan mengingat nama isteri tersayang, BERNADETTE, di rumah, saya memilih hotel tersebut tempat menginap selama di Lourdes.Dari Lourdes kembali lagi ke Frankfurt untuk selanjutnya kembali ke Indonesia.

Tahun 1985: Sebagai Sekretaris ACCU, pada tgl 2 Maret 1985, saya mendapat penugasan ke Kanada untuk mempromosikan gerakan CU di Indonesia dan Asia termasuk SPEAKING TOUR , dalam rangka FUND RAISING, 3 minggu berkeliling di beberapa provinsi di Kanada, a.l. Propinsi Sasketchewan, Manitoba dan Ontario. Menghadiri berbagai pertemuan, kunjungan ke CU CU, wawancara TV, pers conference dan lainnya.

Karena menurut rencana perjalanan saya harus hadir pada rapat ACCU di Seoul, Korea Selatan, maka saya berangkat dari Toronto menuju New York setelah transit di Chicago. Dari New York , melanjutkan penerbangan ke Seoul setelah transit di Anchorage, Alaska.

Setelah beberapa hari di Seoul, Korea Selatan, 9 April 1985,saya kembali ke Indonesia ,
Perjalanan tugas ini lebih kurang 5 minggu. Tgl. 6 Juni 1985 menghadiri pertemuan, rapat dan sebagai salah seorang instruktur pada suatu training di Bangkok dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Srilanka, ke Sanasha Campus di Kegal sebagai salah seorang instruktur pada training di Sanasha Campus. 20 Juni 1985 kembali ke Indonesia.

Pada tgl 15 Mei 1985 saya beragkat ke PARIS, Perancis , diutus oleh LPPS-KWI, untuk menghadiri Kongres Pemuda Katolik Se Dunia di Paris. Seusai perhelatan tersebut saya ditempatkan di rumah-rumah keluarga Katolik dalam mengalami serta menghayati kehidupan keluarga Katolik di Perancis. Saya ditempatkan jauh di-ari Paris, dekat perbatasan Spanyol, sekitar pedesaan di Lourdes. Program ini disponsori oleh LPPS (Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sosial} KWI-MAWI, dengan CCFD (Comite Catholique contre la Faim et pour le Developpement). Tgl 29 Mei kembali ke Indonesia.

Tahun 1986: Kunjungan rutin, 27 Oktober 1986, ke ACCU Office di Bangkok dan 29 Oktober 1986 mengunjungi Srilanka untuk pertemuan dengan CCA di Colombo pada tgl 31 Oktober 1986. Tgl 2 Nopember menuju kantor ACCU di Bangkok dan baru 10 Nopember kembali ke Indonesia.

Tahun 1987: Berangkat menuju Hongkong untuk suatu Seminar ACCU pada tgl 27 Juni dan kembali ke Indonesia pada tgl. 5 Juli 1987. Tahun 1988: Sebagai partisipan pada INGI (International NGO Forum on Indonesia) saya mendapat undangan u ntuk ikut pada pertemuan INGI yang diselenggarakan di Amsterdam, Negeri Belanda tgl 24 April 10 Mei 1988 Pertemuan, rapat berlangsung di Amsterdam, Den Haag dan di Brussel, Belgia. Tgl. 10 Mei , rombongan kembali ke Indonesia. Biaya perjalanan saya, tiket pesawat, hotel dllnya ditanggung oleh CEBEMO.

Tahun 1989: Dengan bea siswa dari OTO BAPPENAS USAID, rombongan yang berasal dari NGO partisipan INGI, setelah melalui seleksi di kantor OTO BAPPENAS, dan lulus test bahasa Inggris Toefle, score 600.- 16 orang diberangkatkan ke Amerika Serikat untuk training di SCHOOL FOR INTERNATIONAL TRAINING, di Brattleboro, VERMONT, USA, 9 Oktober 17 Nopember 1989. Setelah 5 minggu di kelas, rombongan bepergian ke berbagai kota, a.l. BOSTON, berkunjung ke Harvard University, ke New York, kunjungan ke World Bank dan ke gedung PBB. Selanjutnya kunjungan ke Universtas- M.I.T. di Amherst, OHIO. Dan 19 Nopember 1989, dalam perjalanan menuju Indonesia, saya sendiri harus mampir ke HONGKONG lagi untuk suatu pertemuan ACCU yang diselelenggarakan di TAICHUNG, TAIWAN.. 27Nopember 1989 kembali ke Indonesia.

Tahun 1990: 5 Mei, Rombongan partisipan INGI berangkat menuju BONN,Jerman Barat untuk suatu pertemuan antar NGO NGO Indonesia dan NGO-NGO dari negara-negara anggota konsorsium IGGI, penyandang dana untuk pembangunan di Indonesia. Setelah beberapa hari pertemuan di BONN, dilanjutkan ke BERLIN. Beberapa hari di Berlin, dilanjutkan ke BRUSSEL, BELGIA, untuk finalisasi Action Plan untuk tahun berikutnya. Kembali ke Indonesia pada tanggal 27 Mei 1990.

Tahun 1991: Pada Musyawarah Nasional BK3 Indonesia, saya terpilih sebagai KETUA Dewan Pimpinan BK3 Indonesia untuk periode 5 tahun. Jabatan KETUA BK3I berlangsung hingga tahun 2001; jadi memegang jabatan KETUA selama 10 tahun.
Setelah absen 3 tahun dari jabatan Ketua BK3I (INKOPDIT), terpilih lagi pada RAT INKOPDIT, yang diselenggarakan di Hotel Jayakarta, Jakarta Kota, pada thn 2004.

Tahun 1992: Kembali INGI menyelenggarakan pertemuan di ODAWARA, JEPANG, dengan thema: PEOPLES PARTICIPATION IN ECONOMIC LIBERISATION. Ini mrupakan The Eight INGI CONFERENCE. Kegiatan ini berlangsung dari tgl 21 25 Maret 1992. OPEN FORUM diselenggarakan di YOKOHAMA. .dan pertemuan berikutnya berlangsung di TOKYO, DI hotel WASHINGTON. TGAL 25 Maret rombongan kembali ke tanah air.

Tahun 1994. 24 Juli saya berangkat ke Taiwan dalam rangka Exposure Program. Pesertanya terdiri dari utusan-utusan dari Federasi CU anggota ACCU. Peserta kembali ke negara masing-masing pada 2 Augustus 1994.-
6 September 1994, berangkat menuju Dhaka, Bangladesh sebagai delegasi selaku Ketua BK3I pada AGM(Annual General Meeting). 11 September , kembali ke Indonesia.

Tahun 1996. 22 Mei berangkat ke Colombo, Srilanka. Pertemuan dengan CCA dan kunjungan ke berbagai proyek CCA di Srilanka. 28 Mei kembali ke Indonsia. Lalu 25 Juni, berangkat menuju Hongkong untuk sterusnya melanjutkan perjalanan ke WINNIPEG,MANITOBA, CANADA dengan terlebih dulu transit di VANCOUVER, dalam rangka memenuhi undangan CCA. Rombongan terdiri dari 6 orang yang mewakili Lembaga /Organisasi Koperasi tingkat Nasional, Daerah dan Universitas. Selain ikut serta dalam Open Forum, kunjungan ke berbagai Koperasi yang ada di Propinsi Manitoba, Canada. Kembali ke Indonesia 16 Juli 1996.

September 22. Menuju Hongkong untuk melanjutkan perjalanan tugas dalam rangka menghadiri AGM ACCU di Taipei. Kembali ke Indonsia 26 September. Tahun 1997. 6 April menghadiri pertemuan rutin di BANGKOK dalam kapasitas sebagai Wkl Ketua ACCU. Kembali ke P.Siantar 12 April. Selanjutnya menghadiri Regional Forum on CU Out-Reaching Penetration dan AGM ACCU di Manila, Pilippina, 19 22 September 1997. 8 Oktober 1997. berangkat ke Korea atas undangan NATIONAL CREDIT UNION OF KOREA(NACUFOK), dalam rangka ikut serta pada EXPOSURE PROGRAM, diikuti utusan dari 15 negara anggota ACCU.Kembali ke Indonesia 17 Oktober 1997.

Tahun 1998. Tanggal 10 Juli 1998, Sebagai penghargaan atas jerih payah, pengorbanan serta pengabdian insan-insan Pengurus, Penggerak CU, oleh Pemerintah Republik Indonesia, diberikan PENGHARGAAN berupa SATYA LENCANA PEMBANGUNAN kepada , Drs. P.M.SITANGGANG, KETUA INKOPDIT. Penyerahan penghargaan ini dilaksanakan di ISTANA MERDEKA, JAKARTA oleh BAPAK PERSIDEN RI, DR B.J.HABIBIE pada tanggal 10 JULI 1998. 15 September 1998. Berangkat ke Bangkok untuk seterusnya melanjutkan perjalanan ke KATMANDU, NEPAL untuk hadir dan berpartisipasi dalam SEMINAR dan mewakili INKOPDIT (CUCO INDONESIA) pada AGM (RAT ACCU) yang berlangsungdari tanggal 16 sd 23 September 1998. Tgl 24 kembali ke Indonsia.
Tahun 2000. 18 September 2000. Berangkat ke ANAN CITY, KOREA SELATAN untuk menghadiri Seminar, mewakili INKOPDIT pada AGM ACCU (RAT ACCU) 19 25 September 2000.

Berangkat ke BEIJING, RRC, 16 OKTOBER 2000.dalam kapasitas SEKRETARIS ACCU, sebagai salah seorang peserta dan sebagai Nara Sumber, atas undangan INTERNATIONAL CO-OPERATIVE ALLIANCE ( ICA ), pada 5th ASIA PACIFIC COOPERATIVE MINISTERS CONFERENCE. Tahun 2007. 12 15 Maret, Berangkat ke Bangkok dalam rangka mengahadiri ACCU Board of Directors Meeting. 16 Maret kembali ke Indonesia.

23 Juli 2007 berangkat ke Jakarta untuk selanjutnya bersama Pak Abat Elias,
General Manager INKOPDIT, berangkat ke KANADA dgn rute: Jakarta- Taipei- Vancouver- Calgary pp. dalam rangka menghadiri WORLD CREDIT UNIONS CONGRES (KONGRES CU SE DUNIA) atas undangan CCA, mitra INKOPDIT puluhan tahun sebagai penghargaan atas prestasi INKOPDIT dalam pengembangan CU di Indonesia. Semua biaya, tiket, hotel dlsb. Ditanggung oleh CCA> Perhelatan ini, dihadiri ribuan utusan dari puluhan negara yang beraffiliasi ke WORLD COUNCIL OF CREDI UNIONS (WOCCU). Pada tanggal 5 Augustus kembali ke Indonesia.

Tahun 2008. 24 Maret 2008 berangkat ke Korea, Daejon City, untuk Rapat rutin ACCU (ACCU Board of Directors Meeting), yang berlangsung 25 29 Maret 2008.
Pada kesempatan ini, Sdr.Robinson Bakara turut serta untuk studi banding Pogram IT yang sudah dilaksanakan di PUSKOPDIT BK3D SUMUT yaitu Program Be UNION.

23 September 2008, Berangkat ke DHAKA, BANGLADESH, untuk Rapat Persiapan AGM ACCU, tugas sebagai Moderator- pada pembahasan session-session. Karena jabatan saya sebagai 1st VICE PRESIDENT ACCU (Wkl KETUA ACCU), berbagai kesibukan harus ditangani, menerima tamu-tamu, a.l. Pejabat Pemerintah Negara setempat (Bangladesh), undangan dari Lembaga-Lembaga Lokal dan Inernational, konfrensi pers dan media electronic(tv). Tiba kembali di P.Siantar tgl. 30 September 2008.

Sebagian besar dari uraian pengalaman dan perjalanan sebagaimana diutarakan diatas, merupakan kegiatan yang berkaitan dengan fungsi dan jabatan saya di ACCU dan Lembaga Mitra , tetapi tidak berarti kegiatan-kegiatan pembinaan dan pengembangan gerakan CU di Indonesia dan khususnya di Sumut terabaikan, bahkan lebih besar.

Sins of the Tongue

aimingtobepurified:

Hey homies,

I just thought I’d share something I learnt awhile back.

The spoken word is very important – especially to God. He created with spoken words – He IS the word. (John 1:1)

He hears every word we say: every good, every grumbling. Every idle word that we speak will be accounted for…